“nyit nyit nyit”

Standard

Sekitar satu bulan yang lalu, ditengah perjalanan saya belajar dari sepasang sandal karet. Ada apa dengan sandal karet??

*

Sebelum masuk bekerja, saya dan para rekan sudah diberi penjelasan, termasuk alas kaki yang direkomendasikan untuk bekerja. Model alas kaki ini dicontohkan dalam sebuah sandal karet dengan produk ternama yang juga branded di Indonesia.

*

Namanya juga merantau dengan modal terbatas kan ya, belum lagi semua serba dari nol, kudu mikir dong, terutama dari segi pengeluaran. Nah, cari sandal kudu sesuai bajet namun tetap steady.. 😁

*

Buat para perantau di Jepang pastinya paling senang ke serba ¥100 (jika diakumulasikan ke rupiah sekitar Rp 125,-).

Catatan:

Buat belanja di jepang, kagak bisa dirupiahin muluk.. Bisa-bisa nggak jadi belanja dah, karena rate nya beda..

Saya dan teman-teman senang banget nongkrong di toko ini. Selain harganya yang ekonomis, juga banyak pilihan produk lainnya (tidak hanya sandal saja) tergantung persediaan masing-masing toko.

**

Sebenarnya, sandal yang saya beli ini desainnya udah sesuai banget dengan yang direkomendasikan. Bisa dibayangkan betapa semangatnya kami mau mulai bekerja dengan sandal baru ¥100 saat itu 😁☝🏻

**

Boleh dibilang, sandal ini menemani saya bekerja cukup lama.. Bahkan, sampai sekarangpun masih bagus. Hanya saja, entah karena faktor kaki saya sendiri ataukah memang penggunaannya yang kurang tepat, sandalnya jadi bunyi-bunyi “nyit nyit nyit” dibawa kerja, apalagi di area lantai yang “kinclong”.

Lambat laun, setelah saya mampu membeli telfon genggam sendiri, saya mulai mendapatkan promosi produk-produk diskon di sebuah aplikasi. Eh, ketemu sandal yang branded itu lagi diskon!! Memang sih harganya 30x lipat lebih tinggi dari sandal saya sebelumnya; namun, demi support pekerjaan, tidak ada salahnya.

Akhirnya saya punya sandal plastik yang direkomendasikan dan juga branded. 😇🙏 Saat itu, semangat kerja berkali lipat lebih percaya diri (ciile, gaya gile 😆✌🏻). Berangkat kerja dah macem kuncinya di kaki gitu.. 🤣 (gile.. gilee..).

**

Tapi, segala sesuatu tetep ada plus minus-nya. Sandal sekarang memang branded, bentuknya lebih kokoh dengan warna yang lebih natural. Sayangnya rada berat euy..

Beda dengan sandal yang sebelumnya. Lebih ringan, warnanya lembut rada ngejreng, no branded.

**

Yah, balik lagi.. entah itu kaki saya ataukah penggunaanya yang tidak efektif makanya kejadian pertama terulang kembali. Apes euy..

Lama-lama sandal branded-pun terjangkit “nyit nyit nyit”. Saya mulai jengah dan membatin “ya sudahlah..”.

**

Berbagai cara sudah saya lalukan demi menghalau si “nyit nyit nyit” tapi apa daya tak de yang suksesful.. Mulai dari mencuci sandal, dikeringkan; awalnya “nyit nyit nyit” reda, eeh.. seiring waktu balik lagi..

Terus, berjalan rada diangkat, tetep aja asal nyentuh lantai.. mulai dah.. apalagi kalau baru keluar dari ofuro, luar biasa “nyit nyit nyit”.. Bikin gondok kadang.. 😔

***

Saya dan dua orang teman saya punya hobi dan karakter yang klop. Kami sering gila-gilaan bareng biar kagak gila beneran 😄

Hanya saja, hari itu, salah seorang dari kami akan kembali ke Indonesia. Dengan berat hati, kami kudu sayonara dan datang ke shelter-nya buat bantu-bantu packing. Namun, setelah packing, dia sempat-sempatnya meninggalkan kenang-kenangan, salah satunya sandal buat saya.

Sama seperti rekan kerja saya, kami bertigapun juga penggemar ¥100 😆 Apalagi yang bentuknya lucu-lucu 😁👍 Sandal itu termasuk salah satu yang teman saya beli saat hunting di toko ¥100. Bentuknya lebih feminim dengan warna pink lembut dan seringan bentuknya.

Tadinya, sandal itu mau saya pakai di dalam rumah saja. Tapi.. kenapa nggak dicoba bawa bekerja aja?! Bisa po?? (Mengingat & menimbang sikon 2 sandal terdahulu). Galau…

***

Kita nggak bakal pernah tau kalau tak pernah mencoba. Yap, akhirnya itu sandal saya bawa bekerja. Nyaman euy.. Ringan.. Tanpa “nyit nyit nyit”!!

Saya mantap.. dalam hati “sepertinya ini mggak bakal terserang “nyit nyit nyit” 😄 Tak lama, gegara disebut-sebut, “nyit nyit nyit” dateeeng..😭 Apes…

***

Meskipun demikian, jika ada nominasi persandalan dari awal saya bekerja sampai detik ini, memang sandal dari teman saya inilah yang paling lumayan terkondisikan.

***

“Nyit nyit nyit” memang tidak bisa hilang begitu saja tapi bisa dikurangi..

Setelah saya perhatiin, mungkin selama ini sandal yang saya pakai memang tidak digunakan dengan tepat. Mereka sudah lalu lalang diantara panas, hujan, salju; tempat yang licin, “kinclong”, basah, lembab, berdebu, berkerikil, dll.

Toh harusnya kalau memang saya support kerjaan, mau sandal murah kek, branded kek, hadiah kek, diskonan kek; juga kudu dirawat..

Mulai dekat-dekat ini, saya mulai memisahkan sandal yang saya gunakan saat bekerja dilapangan dengan sandal yang dipakai untuk berangkat kerja. Lalu mencegah sandal menginjak tempat basah. Moga bisa meminimalisir “nyit nyit nyit”. 😁🙏

Terkadang kualitas memang dilihat dari harga. Tapi tak selalu yang mahal itu cocok dan tak semua yang tidak branded itu tidak berkualitas. Semua tergantung pemakaian dan perawatan.

Advertisements

Hujan..

Standard

Memasuki musim semi, saya seperti kembali merasakan hangatnya sinar matahari, seolah selama ini dia betah berlama-lama sembunyi dibalik awan..

Yah, musim dingin pada awalnya memang ditunggu-tunggu, karena notabennya saya yang berasal dari negeri 2 musim belum pernah merasakan bagaimana hujan salju yang konon katanya lembut seperti kapas itu. Namanya juga hanya mendengar sebuah cerita, faktanya ada beberapa yang benar dan sebagian tidak; namun yang paling nyata, adakalanya memang terasa lembut, kadang seperti es serut, dan.. suhunya gila-gilaan dingiiiiin…!!! Makin tebal salju, plus angin, makin dingiiin!! Nggak cocok banget sama yang punya alergi dengan udara dingin..

Nah, sepeninggal musim dingin menuju musim semi ini, cuaca boleh dibilang labil. Kadang angin kencang yang saking dahsyatnya, seolah shelter saya hendak diterjang dan diterbangkan entah kemana. Kadang mendung.. Kadang hujan..

Cerita kembali melompat ke saat itu. Dimana saya sedang melirik ke beranda luar dari pintu kaca transparan rumah sakit. Hujan lebat..

Tiba-tiba saya bertemu dengan seorang pasien yang sedang melintas. Kami terlibat obrolan singkat tapi penuh makna.

Waktu itu sang pasien mengatakan “hujan merepotkan ya.. nggak bisa kemana-mana.. (bla bla bla bla)”. Saya membenarkannya. Namun, entah kenapa, saya tiba-tiba tercenung, ada kata yang berbisik di hati kecil saya

“boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal bukanlah yang terbaik untukmu”

Saya menyadari sesuatu.. Betapa tidak bersyukurnya saya, mungkin kita para manusia.. Padahal, di dalam kitab Tuhan telah berkata menurunkan hujan sebagai rahmat, karenanyalah bisa tumbuh berbagai tumbuhan dan menjadi sumber kehidupan di alam semesta.

Betapa pentingnya air.. Bahkan, orang bisa hidup tanpa makanan tapi tidak tanpa air.

Tapi disaat berkah itu turun, kita mengutukinya, merasa terbebani dengan kedatangannya.. Malas bangun pagi, berasa enggan beraktifitas, merasa direpotkan dengan harus menggotong payung kemana-mana dan pakaian menjadi basah, dll.

Yah, kita hanya memandang sisi buruknya, padahal dibalik yang demikian banyak hal yang tak mampu kita jabarkan dengan kata-kata tentang betapa pentingnya hujan..

Kita butuh hujan.. Alam semesta butuh hujan.. Namun, kita sering mengeluhkannya ketika dia muncul..

Hari ini, pagi ini, saya menyingkap kain gorden. Pastinya sinar hangat sang suryalah yang paling saya harapkan. Melihat butir-butir bening itu menempel dan bergulir di kaca jendela luar, saya menjadi kuyu, tidak bersemangat. Dalam hati “huft, hujan..” Yang ada, si malas menunjukkan perannya, merasa kegirangan melihat sang inang ada dipihaknya.

Namun, saya kembali teringat akan masa itu. Merasa tidak mau kalah dengan rasa malas, saya segera berpikir untuk melakukan sesuatu yang pastinya harus lebih bermanfaat ketimbang mengecek sosial media yang hanya dilihat cuma follower, postingan, dan hal lainnya yang menurut saya mulai membuang-buang waktu. Tanpa online sekalipun waktu tetap berjalan dan saya terlalu lengah begitu lama.

Saya berjalan menuju dapur. Kerjaan nanti cukup menguras tenapa, so, saya harus sedia energi, yang artinya kudu sarapan pagi! Walaupun, belakangan terbilang saya mulai terbiasa meninggalkan kebiasaan baik ini, tidak kali ini. Saya membuat mie goreng kesukaan yang indonesia banget tentunya (nggak boleh ngiklan, haha). Setidaknya, dengan memasak, sekalipun cuma hal gampang; selain berarti melakukan sesuatu yang bermanfaat juga sekaligus refreshing.

Sembari sarapan, saya teringat dengan kata-kata yang menegur saya pada waktu itu. “Saya pernah baca dimana ya??” Saking penasaran, saya searching potongan kata-kata tersebut. MasyaAllah.. itu potongan ayat QS. Al-Baqarah:216 yang artinya:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Tokushima, 16 Maret 2018

Ini hari spesial Ibu. “Selamat ulang tahun Ibuku sayang.. Semoga berkah Tuhan selalu bersama Ibu.. Seperti halnya hujan di pagi ini yang menjadi berkah bagi anakmu..”

Panen Ajaib!

Standard
Panen Ajaib!

Pagi ini, saya mengemasi sampah di asrama kami, karena minggu ini sayalah penanggungjawabnya. Tiba-tiba, kepikiran untuk menanam berbagai tanaman yang sekira bisa dipanen dan bermanfaat nantinya.

Saya lihat disebuah laci meja di sudut dapur, ada kentang yang sudah bertunas dan juga bawang. Hanya saja, kondisi bawang sudah mulai lapuk. Tapi, saya tetap mencoba untuk menanamnya, karena masih ada pucuk tunasnya yang tetap hijau. Toh, saya takkan rugi, kalaupun dia tidak bisa tumbuh, paling tidak lepukan bawang tersebut bisa jadi pupuk organik bagi tanaman lainnya.

Diperalihan cuaca ke musim semi, masih menyisakan hawa musim dingin; belum lagi waktu saya yang terbilang terbatas, karena 2 jam lagi kudu siap-siap untuk pergi bekerja.

Kalau udah niat, kapan lagi??

Hati saya yang menuntun untuk tetap menanamkannya sekarang juga. Mau tak mau, saya bergerak menghadapi suhu dingin sambil mengobrak-abrik tanah yang sudah dipot-pot.

Seharusnya, tanah ini saya bersihkan dulu sebelum ditanam ulang. Tanah bekas tanaman tulip, bawang, kentang, cabe, sayur okrah, dan segala macam ini sudah lama kami biarkan begitu saja. Terlebih diantara kami hanya saya yang berminat bercocok tanam. Waktu yang terbatas, yang selalu menenggelamkan saya dalam rutinitas kerja dan belajar, membuat saya mengabaikannya. Padahal, kalau ada waktu, selain bisa memanen sesuatu yang bermanfaat, saya juga bisa menggunakan cocok tanam sebagai sarana refreshing.

Saya ambil kentang yang sudah bertunas, bawang merah gede yang sudah bertunas dan mulai lapuk, jahe yang sengaja saya beli dan dibiarkan begitu saja di luar kulkas, dan bawang putih yang sudah dibersihkan kulitnya dan bertunas dari dalam kulkas, serta biji dari korma (ini menjadi bonus saat saya memesan makanan ke sebuah restoran turki di osaka).

Pot kami ada 4 jenis. Yang pertama kali bentuknya memanjang, pot yang pertama kali kami beli sesampai di jepang karena menerima bibit tulip dari direktur. Selanjutnya, memanfaatkan botol bekas gede yang dipotong hampir separonya dan bagian bawahnya dilobangi. Yang ketiga, masih dengan botol, tapi kali ini botol minyak yang dibelah menjadi hampir dua bagian dan area bawahnya sedikit dilobangi. Yang keempat, pot pemberian rekan kerja kami yang waktu itu keluarganya hendak membuang bunga-bunga mereka yang sudah terlanjur tumbuh banyak.

Saya menanam secara acak, seperti ilmu kodok yang sepertinya melekat dalam diri saya, haha..

Ini hanya untuk pot di area depan. Berdasarkan urutannya:

  1. Pot botol potong 1/2 👉 Bawang putih yang sudah bertunas
  2. Pot bundar 👉 Biji korma
  3. Pot botol potong 1/2 👉 Bawang putih yang sudah bertunas
  4. Pot bundar 👉 Kentang dan bawang yang sudah bertunas
  5. Pot botol potong 1/2 👉 Bawang putih yang sudah bertunas
  6. Pot bundar 👉 Bawang merah thailand yang ditanam sekitar 2 musim lalu menyisakan daun yang mirip daun bawang dan terakhir saya mau panen yang ada hanyalah akar serabut biasa tanpa bawang merah yang ditunggu-tunggu. Saya biarkan saja, teman saya bilang, bawang merahnya bakal ada nanti setelah ditanam lama.
  7. Pot botol potong 1/2 👉 Bawang putih yang sudah bertunas
  8. Pot botol minyak belah 1/2 👉 Tersisa sedikit tanah yang bagian dasarnya bebatuan mulai terlihat, tidak ditanami apa-apa 👉 mau dibuang saja, tapi masih ragu
  9. Pot botol minyak belah 1/2 👉 s.d.a (poin 8)

Di pot no.4, ketika saya menggemburkan tanah, dari akar batang tanaman yang telah mati yang saya tidak menduga ternyata itu kentang!! Ada 2 kentang ukuran sedang yang sudah melembut. Saya kaget, tau gitu coba dari dulu saya cek, mungkin bisa dipanen dengan selamat, hee.. Namanya juga “nasi sudah jadi bubur”, mbok ya ikhlaskan..

Saya bersihkan rerumputan yang ternyata akarnya juga cukup dalam. Dan, eh! Secara ajaib, ada satu kentang ukuran sedang, tanpa akar, tanpa batang, tanpa rusak secara ajaib (bagi saya) berdiam didalam tanah tersebut.

Saya excited bangett..

Diantara semua yang saya tanam, tak ada hasilnya yang lebih baik dari kentang ini. Berbeda dengan kentang-kentang kebanyakan yang pas dipanen kusam dengan tanah sebelum dibersihkan dan banyak akar dimana-mana. Tapi, kentang yang ini beda!!

Pertama, bunga tulip yang tumbuh dengan indah dan berakhir setelah musim berganti. Lalu bunga aster juga demikian. Kemudian, sayur okrah yang cukup lumayan dipanen beberapa kali hanya saja berakhir dengan daunnya seperti kena hama (banyak serangga kecil). Terus, bawang merah yang boleh dibilang hasil panen sementaranya baru daun bawang saja.

Eh, ini kentang yang tak terduga!!

Bagi saya, ini sebuah keajaiban! Meskipun sebenarnya ada faktor-faktor yang bisa dijelaskan jika saya mengerti ilmu cocok tanam 😄

Hikmah

Apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik hasilnya. Sekalipun demikian, tanaman itu perlu perawatan sehingga hasil yang dipetikpun maksimal.

Tidak ada usaha yang tidak berguna. Seribu kali gagal pasti ada 1 atau 2 yang berhasil.

Terima kasih kentang.. saya dapat hikmah dan pencerahan luar biasa pagi ini 😇

Tokushima, 9 Maret 2018
Olha Chayo